Wednesday, November 18, 2015

DI BALIK BAWELNYA, SEORANG IBU



Nyonya Bawel sedang bersusah hati. 6 bulan yang lalu, putra sulung Nyonya Bawel terindikasi tubercolosis. Si ganteng ini, matahari kehidupan pertama dalam kehidupan Nyonya Bawel, yang ditunggu. Si Ganteng terlahir di tahun keempat pernikahan Nyonya Bawel, lewat operasi  Caesar. Soalnya ari-arinya menutupi jalan lahir. Kelahirannya sangat mungil, Cuma 2,8 kg dengan panjang 49 cm Padahal anank-anak kakak-adik Nyonya Bawel rata-rata lahir di atas 3 kg dengan panjang di atas 50 cm.

Tapi kedatangannya memang sangat di tunggu, tentu saja dalam kondisi apapun, Nyonya Bawel dan suami mensyukurinya. Prinsipnya lahir mungil, toh saat sudah di dunia bisa “dibesarkan”.  Maka kian cerahlah kehidupan Nyonya Bawel setelah si Ganteng hadir dalam kehidupan pernikahan Nyonya Bawel.  Si Ganteng yang lahir 27 Juli 2000, di beri nama Frisch Bastiaan Calvarie Monoarfa. Sehari hari dipanggil Bas. Bahkan papanya punya tagline Bast is the Best. Si Ganteng tumbuh sehat, ganteng dan sangat manis. Prilakunya selalu menyenangkan orang lain, bahkan terbawa hingga sekarang diusianya 15 tahun lebih.

Presatasi sekolahnya biasa saja, hanya ada di peringkat tengah, Rangking 15 dari 25 murid. Ketika Si Ganteng kelas 6 SD, Nyonya Bawel memilih berhenti bekerja dan bertekad menangani langsung pendidikannya, supaya bisa lulus dengan nilai baik dan bisa diterima di sekolah negeri. (Terbukti Si Ganteng lulus dengan NEM 26,2 utk 3 mata pelajaran dan di terima peringkat 3 di SMPN 12, Jakarta) Oh ya pendidikan dasar, kedua anak Nyonya Bawel (3  tahun setelah kelahiran Si Ganteng, Nyonya Bawel melahirkan gadis Cantik, namanya Vanessa) sengaja dimasukkan ke sekolah berbasis agama, karena Nyonya Bawel dan suami menginginkan anak-anak dengan dasar agama yang baik.

Saat wisuda kelas 6, Si Ganteng datang memberi bunga buat Nyonya Bawel.
Langsung meleber mili.



Keputusan Nyonya Bawel berhenti bekerja ternyata sangat tepat. Walau awalnya kedua anak Nyonya Bawel merasa aneh setiap pulang sekolah, kok si Mama ada di rumah. Minggu pertama anaka-anak mengira Nyonya Bawel cuti. Lama-alama mereka bertanya kok Mama nggak habis-habis cutinyaa? Akhirnya Nyonya Bawel memberitahukan kalau Nyonya Bawel sudah tidak bekerja. Itu artinya Nyonya Bawel akan akan terus  di rumah.

Si Ganteng dan Si Cantik menemani dua sepupu kecil.
Saat itu Si Ganteng kelas 6 SD dan Si cantik kelas 3 SD. Reaksi kedua anak Nyonya Bawel sangat mengejutkan.

Si Ganteng: Kalau Mama nggak kerja, apa kita masih bisa bersekolah?
Si Cantik: Apa kita masih bisa ke mall, jajan dan main?
Nyonya Bawel:  $$$$&&&&&&???????? Gubrak, nyaris pingsan.
Si  Ganteng: Berarti Mama akan makin bawel.
Si Cantik: Aku sedih.
Nyonya Bawel: Menahan tangis dan menahan diri nggak cakar tembok.

Yang bisa Nyonya Bawel lakukan, menggiring keduanya naik tempat tidur, posisi Nyonya Bawel di tengah, Si Ganteng dan Si Cantik di kiri kanan Nyonya Bawel. Lalu Nyonya Bawel mengajak mereka berdoa.

Lebih kurang isi doanya,  Nyonya Bawel mengucap syukur untuk kecerdasan kedua anak Nyonya Bawel dan memohon apa yang dikhawatirkan keduanya tidak terbukti. Memohon Tuhan yang melengkapi kebutuhan hidup kami dan menjauhkan dari semua kekhawatiran.

Usai berdoa, baru Nyonya Bawel menjelaskan, alasan Nyonya Bawel berhenti kerja.  Nyonya Bawel menjelaskan, anak-anak nggak akan berhenti sekolah. Kalau ke mall. Jajan dan main memang akan berkurang. Soal bawel, itu relative. Kalau Nggak nurut, pastinya Si Mama akan makin bawel.

Si Ganteng menari payung

Oh ya, balik ke perasaan Nyonya Bawel yang sedang bersusah hati. Ibu mana yang tidak cemas jika mengetahui ada anaknya yang sakit? Walau begitu banyak informasi dan akses berobat yang mudah dan murah, kekhawatiran ibu tetap. Tidak ada ibu yang ingin melihat anaknya menderita. Saat Si Ganteng terindikasi TB, tandanya hanya batuk dan demam. Batuk hampir seminggu dan tidak berkurang walau sudah diberi obat batuk warung. Berat badan nggak bertambah walau makannya banyak. Nyonya Bawel piker namanya juga anak remaja lelaki, wajar tumbuhnya ke atas bukan ke samping.

Sehingga ketika diajak ke puskesmas dan direkomendasikan untuk periksa dahak  dan rontgen, sisi hati Nyonya Bawel mulai resah. Singkat cerita selesai periksa dahak dan rontgen, lalu hasilnya dibacakan dan gongpun berbunyi. Positip TB. Saat itu Nyonya Bawel dan suami, menerima dengan sabar. Si Ganteng sudah sehat dan tidak tampak kalau sedang sakit. Obat yang diberikan dalam bentuk paket.

Untuk melihat dan memantau pasien, Puskesmas hanya memberikan obat untuk seminggu. Sehingga minggu berikutnya Nyonya Bawel harus kembali utnuk mengambil obat. Di rumah, Nyonya Bawel memperhatikan betul asupan makanan si Ganteng. Masalahnya Si Ganteng termasuk anak susah makan. Padahal salah satu yang disarankan, Si Ganteng harus menaikkan berat badan 5 kg. Pasien TB harus diet TKTP-Tinggi Kalori dan Tinggi Protein, itu artinya jumlah makanan dan lauknya harus banyak.

Setelah menjalani pengobatan rutin 4 bulan, Si Ganteng harus melakukan pemeriksaan ulang untuk melihat proses pengobatannya. Puji Tuhan membaik!. Yang tdainya harus minum obat setiap hari, maka bulan ke 5 dan ke 6 cukup seminggu 3 kali. Di bulan ke-5 Si Ganteng masuk Tim Paskibar sekolah untuk kompetisi tingkat Kabupaten. Latihan setiap hari sepulang sekolah. Jarak sekolah yang cukup jauh, mengharuskan Si Ganteng berangkat sebelum jam 6 pagi.

 Biasanya pulang sekolah jam 14.10 Si Ganteng pulang ke rumah Oma (Oma-Ibu Nyonya Bawel) untuk makan dan istirahat. Nanti jam 5 sore, jemput adiknya baru sama-sama pulang ke rumah. Biasanya keduanya akan tiba di rumah sesudah magrib, Tapi sejak latihan paskibra, Si Ganteng tidak ada waktu untuk pulang makan dan istirahat di rumah Oma. Setiap hari Si Ganteng sarapan dan bawa bekal ke seklah tapi kalau sejak jam 6 pagi hingga jam 5 sore, bekalpun nggak cukup. Memang Si Ganteng laporan sama Nyonya Bawel ada beli makan di kantin sekolah tapi Nyonya bawel tidak tahu apakah porsinya cukup untuk tubuhnya.

Selama proses latihan, setiap tiba di rumah Si Ganteng seperti orang yang kehabisan energi. Hanya sanggup mandi. Makan saja sudah tidak kuat, apalagi belajar. Beberapa kali Nyonya Bawel dan suami menemukan Si Ganteng sudah tertidur menelungkup di meja belajarnya. Jangan ditanya peningkatan frekwensi kebawelan Nyonya Bawel.


Si Ganteng usia tiga hari sama Papanya (Yg juga ganteng)
Hubungan Nyonya Bawel dengan Si Ganteng merenggang. Begitu juga hubungan Nyonya Bawel dengan suami. Si Ganteng itu extra Joss, suami Nyonya Bawel. Ibarat kata, Si Ganteng terluka maka suami Nyonya Bawel juga terluka. Kecemasan dan ketakutan suami Nyonya Bawel dilimphkan ke Nyonya Bawel. Kalau pulang kerja, Nyonya bawel sudah seperti tahanan. Di Tanya semua hal mendetil mengenai Si Ganteng. Bahkan saat istirahat, saat-saat Nyonya Bawel di duduk depan PC, di atas jam 10 malam. Suami Nyonya Bawel bisa keluar dari kamar Cuma untuk bertanya, Si Ganteng sudah di cek, demam nggak, Bagaimana tidurnya? Dll. Padahal suami Nyonya Bawel bisa saja masuk ke kamar Si Ganteng dan memeriksa sendiri.

Di sinilah persoalan yang sesungguhnya. Nyonya Bawel dan suami sama-sama cemas terhadap kondisi Si Ganteng tapi enggan mengungkapkan. Malah yang terungakap  kemarahan dan kebawelan. Nyonya Bawel dan suami jadi lebih bawel saat berhadapan dengan Si ganteng dan ngomel panjang lebar, membuat Si Ganteng semakin enggan berhadapan dengan rangtuanya.

Selesai perlombaan paskibra, Si Ganteng kembali ke jadwal semula. Pulang sekolah ke Oma, makan dan istirahat. Jam 5 sore, jemput adik dan pulang. Sanpai rumah mandi, nonton tv, makan, dan belajar. Si Ganteng kembali menjadi anak yang menyenangkan. Bahkan, Si Ganteng sehabi mandi mau menemani dan membantu Nyonya Bawel di dapur. Mulai dari kupas bawang sampai merajang sayur. Setiap masakah hamper matang dan menebar aroma, Si Ganteng bakal muncul dan berkata: “Nah enak-enak baunya bikin lapar. Ini rasanya enak saja atau enak banget?” Nanti disambungnya sendiri. Pasti enak banget karena ada cinta Mama di situ, ujarnya sambil memeluk dan mencium Nyonya Bawel. Hati ibu mana yang nggak meleleh mendengar rayuan anaknya?

Selesai pengobatan bulan ke-6, Si ganteng harus evaluasi lagi. Ini yang menyebabkan Nyonya Bawel susah hati. Berat badannya tidak naik bakan turun se kg. Dan yang deng-deng-deng, pengobatannya agagl. Itu berarti harus dari awal lagi, minum obat setiap hari untuk 3 bulan ke depan. Reaksi Nyonya Bawel dan suami adalah NGOMEL. Kesedihan, kecemasan dan ketakutan kami terakumulasi dalam bentuk kemarahan. Marah atas ke gagalan pengobatan ini, marah atas ketidak tegasan kami berhadapan dengan Si Ganteng. Marah karena nggak bisa marah sama Si Ganteng.

Nyonya Bawel dan suami berdiskusi mencari solusi untuk memberi pengertian kepada Si Ganteng, pentingnya kedisiplinan dalam menjalani pengobatan ini. Pengobatan baru berjalan seminggu, tubuh Si Ganteng member reaksi penolakan. Atau justru sedang menyesuaikan. Yang pasti  sejak pulang sekolah Si Ganteng muntah-muntah sepanjang malam, diikuti demam, rasa sakit di kepala, dada dan di perut. Si Ganteng terbaring dengan mengaduh di ranjang kamarnya. Lagi-lagi Nyonya Bawel menahan tangis. Menguatkan diri, mengusap kepalanya dan membujuk: Sabar Kak, ini proses yang harus dilalui. Karena sesudah ini, ada kemungkinan lidah kakak akan mati rasa sesaat. Nggak bisa merasakan. Ini yang sebetulnya membuat Mama dan Papa marah kalau kamu nggak makan atau terlalu lelah.

Jam dinding menunjukan pukul 09.30. malam. Nyonya Bawel membujuknya untuk makan bubur. Karena semua yang dimakan sudah dimuntahkan. Si Ganteng mau. Walau Cuma lima sendok plus segelas teh manis hangat, mampu membuat Si Ganteng merasa nyaman. Sesekali Si Ganteng masih mengaduh karena sakit kepala alias pusing. Nyonya Bawel menjaganya hingga pukul 03.00 pagi. Setelah memastikan SI Ganteng pulas tertidur, Nyonya Bawelpun tidur.

Yang ingin Nyonya Bawel sampaikan, betapa sekuat dan sehebat apapun seorang Ibu, Ia akan menjadi lemah dan tak berdaya, manakala si buah hatinya sakit. Selalu terucap, andaikan sakitnya bisa dipindah. Kenyataannya nggak bisa. Maka ketegasan menjadi penting. Terutama saat anak-anak dalam proses pengobatan. Yuk jaga dan rawat orang-orang kita cintai, dibilang bawel cuek saja. Daripada diamnya kita membuat orang-orang yang kita cintai justru tak lagi bisa bersuara. Satu lagi, biar sudah sebesar, setua atau sehebat apapun yang namanya anak, dia tetap anak kecil di mata Sang Ibu, begitu pula dengan Nyonya Bawel.

Si ganteng saat usia 5 bulan
Dan di Mata Nyonya Bawel, Si Ganteng tetap bayi seperti ini




7 comments:

Lathifah Edib said...

Semangat dan kuat, bundcha! <3
Peluk sayang buat Bas.

Astin Astanti said...

Hiyaaa ganteng itu lucu banget pas tiga hari. Ganteng sayang sama mami ya, mami bawelnya itu sayang kok.

Christanty Putriarty said...

salut ama mami icha meski bawel tetep yang the bestlah buat anak2 tercintanya yang ganteng en cuantik :)

Nchie Hanie said...

Nyonya baweel *peluuk

Hiks, namanya seorang ibu tetep aja ya ga rela kalo anaknya sakit, dan masih saja menganggap bayi, ngebawelin ini ituuh.
Salam buat si ganteng yaa..

Nyonyaa,Bawelin akuu donk !!

noe said...

Ya Allah... Semoga Bastian bisa disiplin dan pengobatannya ngga gagal lagi. Aamiin.. Yg sabar ya mami.. Hugs

Tira Soekardi said...

iya ya mbak. aapalgi kalau anak sudah berjauhan dg kita dan tahu sakit rasanya pingin lari kesana

Anesa Nisa said...

Mweeeee mak ichaaaaa T_T
Skrg si bas sudah sembuh belum? Mdh2an udh sembuh ya dan pengobatannya berhasil. Aku inget ngerawat ibuku yg sempet trkena TB. Oh my, yang ngerawat aja ada rasa jenuh apalagi yg harus minum obat dalam jangka waktu lama.