Monday, January 11, 2016

Cara Nyonya Bawel Menjadi Sahabat Remaja


Kebanyakan orangtua ingin selalu merasa dekat dengan anak-anaknya. Tapi tidak banyak orangtua yang mencari tahu dan berusaha lebih keras agar bisa merasa dekat. Ada dua hal berbeda antara selalu dekat dengan anak dan merasa dekat dengan anak. Nyonya Bawel dan suami ingin menjadi sahabat bagi anak remaja, khususnya anak-anak kami.

Bisa jadi kita selalu dekat dengan anak tapi tidak “merasa” dekat dengan anak. Atau “merasa” dekat dengan anak hanya perasaan, padahal anaknya tidak merasa dekat. Nah loh! Ada yang seperti ini? Nyonya Bawel sudah merasakan dua-duanya. Dulu saat Nyonya Bawel masih jadi buruh yang harus terikat jam kerja, Nyonya Bawel “merasa” dekat dengan anak-anak. Karena Nyonya Bawel selalu memikirkan anak-anak.  Tapi apakah anak-anak “merasa” dekat dengan Nyonya Bawel? Belum tentu. Tapi Nyonya Bawel yakin anak-anak  juga “merasa” dekat dengan Nyonya Bawel karena mereka selalu menyambut hangat  saat Nyonya Bawel pulang kerja.

Kami punya waktu bersama tidak panjang tapi cukup intens. Sepulang kerja Nyonya Bawel, minta waktu pada anak-anak untuk istirahat sebelum bebersih (mandi). Biasanya kedua anak Nyonya Bawel mengiyakan dan tidak lupa mengambilkan Nyonya Bawel air minum. Lalu keduanya akan kembali ke depan televisi.


Usai bebersih, kami sekeluarga makan malam bersama, sambil ngobrol. Nyonya Bawel dan suami melepaskan anak-anak untuk bercerita apa kegiatan mereka di sekolah tanpa bertanya. Nyonya Bawel dan suami ingin selalu menjadi sahabat anak maka kami membiarkan kedua anak bercerita seingat mereka tanpa ditanya. Umumnya 3 hal yang di ceritakan, kegiatan belajar dan mengajar, bermain dengan kawan dan interaksi dengan guru atau dengan orangtua murid.

Sebagai orangtua Nyonya Bawel dan suami lebih sering bertanya hal yang terkait dengan perasaan. Gembirakah kamu hari ini? Apa yang membuat kamu gembira? Atau adakah yang membuat kamu kesal hari ini? Jika nilaimu dapat 7 apakah kamu senang? Usai makan bersama, anak-anak akan belajar. Baik mengerjakan Pekerjaan Rumah atau belajar untuk beberapa mata pelajaran besok. Selesai belajar, kami masih melanjutkan kebersamaan di tempat tidur. Ini adalah rangkaian upaya Nyonya Bawel menjadi sahabat remaja.

Biasanya membacakan cerita. Ini kami lakukan secara bergantian. Usia baca cerita, anak-anak akan memberi tanggapan/kesan mereka atas ceita tersebut. Lalu diakhir dengan doa malam jelang tidur.

Kini kedua anak Nyonya Bawel berada di usia remaja, menuju 13 dan 16 tahun, pertengahan tahun nanti (Keduanya lahir akhir Juli, 27 dan 31) pertumbuhan tubuh dan aktifitas social mereka jelas berubah. Keduanya mempunya akun media social yang masih Nyonya Bawel control. Keduanya memiliki smartphone. Dulu Nyonya Bawel bertekad tidak akan memberikan mereka smarphone sampai usia jelang dewasa. (18 tahun) renacana tidak sesuai kenyataan karena situasi dan kondisinya. Terkait aktifitas dan komunikasi. Upaya mejaga dan mengontrol keberadaan anak-anak, mau tidak mau  menjadi alasan Nyonya Bawel dan suami memberikan smartphone sebelum waktu yang awalnya kami sepakati.



Karena keduanya masih diusia remaja, Nyonya Bawel dan suami ingin menjadi "orang dekat" mereka. Bahasa kerennya, sahabat! Kenyataannya tidak mudah., menjadi sahabat remaja. Mereka mempunyai kriteria sendiri untuk kategori sahabat. Maka inlah yang Nyonya Bawel dan suami lakukan, agar keduanya tetap menjadikan kami sebagai “orang dekat”. Menjadi sahabat remaja.

1.       Memahami dan masuk dalam dunia mereka. Apa sih yang sedang disukai dan dijadikan bahan pembicaraan. Mencari tahu topik-topik tersebut dan sebisa mungin ikutanberopini. Tapo\i jangan lakukan kalau tidak diminta. Cari tahunya darimana? Kalau Nyonya Bawel selalu menjadikan obrolan santai sebagai upaya menggali apa yang disukai dan dengan siapa, anak-anak berkawan.

2.       Mengumpulkan kesabaran seluas Samudera.
 Artinya coba lepaskan beban dan kewajiban sebagai “orangtua”. Berusaha dan menurunkan profil diri, menjadi seolah anak remaja juga. Kita sebagai orangtua tidak akan bisa satu rasa/ satu pemahaman kalau berdiri didua sisi. Saat bergaul dengan anak remaja, orangtua harus menjadi sosok anak remaja juga. Termasuk cara berpikir.

3.       Menghilangkan perasaan sungkan/ nggak enak.
Terkadang sebagai orangtua Nyonya Bawel suka merasa kurang nyaman kalau berpikir seolah anak remaja. Misalnya, jalan sambil makan es krim. Atau tertawa terbahak-bahak. Selama tidak mengotori lantai mall dan tidak menggangu sekeliling, Nyonya Bawel lakukan. Sesekali Nyonya Bawel suka juga mengingatkan : “Aduh Kak, pasti orang lihat Mama dikira abg telat deh. Gini hari masih cekakakan.” Biasanya Si sulung akan berkata: “Cuek aja Ma, gaul gitu loh!”

4.       Menggunakan  Sudut Pandang Anak.
Pengalaman kita sebagai orangtua, pastinya selankah lebih maju. Akan tetapi kalau kita ingin menjadi bagian dan selalu dilibatkan anak dalam aktifitasnya, maka kita harus selalu menggunakan sudut pandang anak. Hal ini akan memudahkan kita memahami perasaan dan cara berpikir remaja. Terkadang ada perasaan geli dan ingin tertawa, jangan lakukan itu. Jika kita tidak berempati dengan anak terutama remaja, maka siap-siaplah kita akan kehilangan mereka.

Untuk merasa dekat selain kita harus mendekatkan diri ke anak, sebagai orangtua Nynya Bawel sebisa mungkin terlibat dalam aktifitas anak-anak. Pun sebaliknya dalam aktifitas Nyonya Bawel, sebisa mungkin juga melibatkan anaka-anak. Sehingga jika Nyonya bawel berbicara tentang kegiatan Nyonya Bawel, anak-anak tidak sungkan menanggapi.

Menjadi orang dekat/sahabat anak terutama anak diusia remaja adalah salah satu upaya penjagaan. Kedekatan anak dan orangtua, akan menjadi semacam tali tak nyata yang mengikat anak secara emosi dengan orangtua. Harapan kita, si anak akan dating kepada orangtua bukan kepada kawan, seandainya menghadapi masalah. Yuk ah, kita bersahabat dengan anak. Berjiwa muda akan memberikan energy lebih.



No comments: