Tuesday, April 05, 2016

Mie Ayam Mamavanenbas, Andalan Menyenangkan Keluarga


Saya bukan ibu yang pandai masak. Apalagi sejak menyelesaikan S1, saya langsung bekerja. Praktis memasak hanya ada dalam cita-cita. Iya, sebagai perempuan saya bercita-cita memiliki ketrampilan memasak. Menurut saya, bisa memasak itu keren dan seksi. Sayang, hal itu hanya sebatas cita-cita. Bagaimana mau memasak, kalau waktu saja nggak punya? alasan klasik. Eit, sungguh itu bukan alasan. Senin-Jumat kerja, akhir pekan jalan-jalan. Kapan masuk dapurnya?

Tapi Tuhan maha baik, diberinya saya waktu untuk mewujudkan cita-cita itu. Dulu ketika saya ngobrol santai dengan bos, di tempat kerja. Bos saya mentertawakan saya, ketika saya bilang cita-cita saya sebetulnya jadi Ibu rumah tangga. Kenyataannya hingga pernikahan saya masuk tahun ke 15, saya baru bisa menjadi fulltime Mom.

Tapi seperti kata pepatah "Better late than never" saya bisa mewujudkan cita-cita saya sebagai ibu rumah tangga. Terus ketrampilan memasaknya? Sampai sekarang masih belajar. Untuk belajar kan nggak ada batasan usia. Tahun-tahun terakhir sebelum saya total meninggalkan pekerjaan "nine to five", saya mulai berkesperimen memasak. Korbannya? Kawan-kawan di tempat kerja.

Ceritanya, sebagai non muslim, saat memasuki bulan puasa, saya biasa membawa bekal makan siang. Soalnya males banget kalau harus turun makan siang ke kantin. Biasanya di bulan puasa, yang berpuasa akan berlama-lama di musholah. Nah di meja kerja, saya bisa makan. Kebetulan di bagian saya, kami berdua yang non musim. Karena kawan saya laki-laki, saya membawakan bekal makan siang untuknya juga.

Ternyata, saat puasa, banyak juga kawan-kawan perempuan lain bagian yang tidak berpuasa karena having periode/ haid atau yang sedang hamil. Biasanya mereka ikut lapar mencium aroma makanan yang saya bawa. Akhirnya, sebelum pulang kerja, kira-kira pk. 16.00 saya kirim email yang memberitahukan besok menu makannya ini, ini dan ini. Seporsi Rp. 12.500, hanya untuk 10 porsi, yang berminat tolong reply email.

Singkat cerita, yang awalnya karena bulan puasa, akhirnya terus sampai sudah tidak bulan puasa. Tapi saya tetap membawa makanan untuk 10 porsi. Masalahnya nggak ada waktu kalau memasak untuk lebih dari 10 porsi. Itu saja sudah di mulai dari malam, membersihkan ikan atau ayam dan merajang sayurannya. Menunya apa saja? Biasanya aneka tumis-tumisan, (kangkung, kacang panjang, buncis, tauge dll) goreng-gorengan (Bakawan jagung/sayur/perkedel kentang) Lauk protein (Telur balado, Ikan rica-rica, Ayam masak kemangi) plus ambel dan kerupuk. Semua resep saya dapat dari internet. Situasi ini berjalan hampir dua tahun. Tapi akan libur kalau saya bertugas ke luar kota. Hingga sekarang kalau bertemu kawan-kawan atau say helo di Fb, pasti yang dikangenin, masakan saya.

Terus itu postingan mie ayam bakso di atas? Ceritanya beda lagi. Kedua anak saya sangat menyukai mie instan. Sementara saya sangat peduli dengan asupan makanan mereka. Akhirnya saya membuat aturan Mie instan boleh di konsumsi, seminggu sekali. Kalau ingin mie, Mama akan membuat mie ayam. Kedua anak saya sampai terheran-heran, Mama masak mie ayam? Apa bisa? Bisa dong, Mama gitu loh. Kan ada internet. Eksperimen pertama, anak-anak langsung menyukai. Selanjutnya? keluarga besar menjadi target. Akhir pekan, saya mengundang semua kumpul di rumah Mama-Ibu kami, untuk mencoba Mie ayam Mamavanenbas.

Eksperimen ini, lumayan dapat nilai 7. Alasannya rasa kurang garam. Saya protes, masalahnya asin atau nggak kan relatif. Rupanya itu alasan, karena berikutnya saya ditantang menyiapkan mie ayam lagi untuk minggu depan. Untuk ibadah keluarga, sekitar 30 porsi. Tantangan makin menarik, karena memasak untuk porsi besar harus konsisten rasanya. Dan untuk tantangan ini, saya sukses. Selanjutnya, saya bisa menyajikan mie ayam, setiap anak-anak minta.

Saya nggak akan share resepnya, karena sudah banyak resepnya di internet. Saya cuma mau cerita, akhirnya Mie ayam Mamavanenbas jadi andalan menyenangkan keluarga. Bahkan saya berani mengundang kawan-kawan untuk mencicipi Mie ayam Mamavanenbas. Apa? Bubur Menado? itu juga saya bisa. Tapi anak-anak dan suami nggak ada yang doyan Bubur Menado. Sementara tantangan ODOP, resep andalan keluarga. Ya Mie ayam Mamavanenbas inilah resep andalan saya. Senang rasanya, ketika Bas akan keluar dari kamar mengikuti aroma, bawang putih dan merica yang ditumis dengan sedikit mentega dan minyak wijen untuk membuat toping ayamnya. 

Bas, dengan mata berbinar-binar nggak sabar menunggu mie ayam tersaji. Biasanya sebuah pelukan hangat dan ciuman jadi bayaran yang memuaskan untuk semangkok Mie ayam Mamavanenbas. Ayo mengaku, siapa yang sudah mencicipi mie ayam Mamavanenbas

Sunday, April 03, 2016

Liburan Murmer ala Nyonya Bawel

Nyonya Bawel dan keluarga sangat senang setiap ada hari libur. Mau itu tanggalan merah maupun akhir minggu. Karena Liburan berarti nggak perlu bangun pk.04.30. Nggak perlu setrika seragam anak sekolah, nggak menyiapkan bekal dan sarapan, di saat langit masih gelap. Itu artinya santai.



Lalu diisi dengan kegiatan apa kalau libur? Seperti di catatan Nyonya Bawel yang lain, keluarga besar Nyonya Bawel paling senang piknik. Piknik di maknai jalan-jalan dan makan di luar. Mulai dari jalan-jalan cuma ke minimarket I atau A, beli cemilan keripik, kacang dan minuman bersoda sampai ke tempat wisata. 

Kalau tema one day one post, liburan murah meriah, banyak banget. Liburan, kami berempat (Keluarga inti Nyonya Bawel) yang murah meriah diantaranya, bersih-bersih rumah dan masak berempat. Sebelumnya Nyonya Bawel akan menanyakan, ingin makan apa? Setelah disepakati makan apa, maka Nyonya Bawel mulai membagi tugas. Karena ini hari libur, semua anggota keluarga harus bahu membahu.

Karena Nyonya Bawel pemegang kendali urusan dapur dan kompor, maka Van dan Bas kebagian mengupas bawang, cuci piring, nyapu dan ngepel. Papanya, membereskan kamar (termasuk ganti seprai). Setelah rumah bersih, Nyonya Bawel senang bermain aduk-aduk kolak di panci, oseng-oseng sayur di wajan dan bakar-bakaran ikan atau ayam. Nggak sampai dua jam, makan enak-menurut keluarga Nyonya Bawel segera bisa dinikmati. 


Sesudah makan, biasanya kita berempat naik tempat tidur dan nonton tv kabel. Kalau bosen nonton tv kabel, bisa nonton film  di DVD. Mau film lama atau baru, asyik-asyik saja. Kebetulan kedua anak Nyonya Bawel dan Papanya, kalau suka sama sebuah film, bisa ditonton berulang-ulang. Kegiatan sederhana semacam ini, sudah lama kami lakukan. Nggak terasa tahu-tahu waktu sudah senja, jelang makan malam, Nyonya Bawel masuk dapur lagi. Karena dilakukan dengan rasa cinta, semua terasa menyenangkan. Karena intinya bukan apa yang kita lakukan saat berlibur tapi dengan siapa kita mengisi liburan.

Bersama orang-orang terkasih, liburan di rumah sudah terasa sebagai sebuah kemewahan. karena kalau nggak libur, kami hanya bisa kumpul berempat jelang malam. Terkadang nggak bisa karena saat Papanya anak-anak pulang, salah satu dari anak kadang sudah tertidur. Itu artinya anak dan Papanya cuma bertemu kurang dari dua jam, di pagi hari jelang ke sekolah dan ke kantor.

Maka saat liburan dan bisa menikmati berempat di rumah saja, menjadi sebuah kemewahan yang membahagiakan. Bahkan walau makan siang hanya dengan sayur lodeh, ikan asin, tahu tempe dan balado telor. Lebih kurang gitu deh liburan murah meriah ala Nyonya Bawel.