Friday, November 24, 2017

5 Kunci Pengasuhan anak di zaman Net

Perwakilan Hero Grup. Tony Mampuk
Puncak acara Giant Faunatic Drawing Competition, adalah pengumuman pemenang yang  dirangkai dengan talkshow bertema parenting : GADGET 101 FOR KIDS. Acara ini adalah bagian dari Program Hero Peduli dari Hero grup. Penggunaan gadget khususnya telepon genggam masih menuai pro dan kontra. Menghadirkan Psikolog Eizabeth Santosa, diskusi berlangsung  hangat dan menarik.

Acara dibuka dengan sambutan Hero Grup  diwakili Toni Mampuk yang ternyata menghadapi persoalan yang sama. Anaknya berusia sekitar 2 tahun, belum bisa membaca namun bisa membuka youtube. Pskolog Elizabeth Santosa tersenyum dan bertanya sapa yang mengadap persoalan seperti itu? Hampr semua yang hadir mengacungkan tangan.

Psikolog Elizabeth Santosa

Sebelum memulai, Lizie, begitu biasa ia disapa, bertanya kepada yang hadir, masalah apa yang diadapi setelah anak terbiasa dengan telepon genggam. Audience menjawab,Kurang bergerak, kurang bersosialisasi, tangan menjadi kaku, tulisan tangan jelek.
                    
Perkembangan teknologi komunikasi dan internet telah mengubah hampir di semua sendi kehidupan. Termasuk dalam pola pengasuhan. Di sadari atau tidak kemajuan teknologi di segala bidang menyeret serta semua yang terlibat di dalamnya. Teknologi menjadi pedang bermata dua. Disatu sisi diakui membantu pekerjaan manusia namun di sisi lain memberi dampak buruk.

Teknologi komunikasi dan internet, mempermudah kehidupan manusia. Mau apa saja bisa dilakukan dari genggaman tangan. Tapi alat komunikasi yang canggih tersebut, bagi sebagian orang justru menjadi hambatan, terutama berko munikasi dengan keluarga? Lalu telepon genggamnya yang salahkah?

Dari mini seminar ini,  beberapa hal yang saya tangkap, sebagai kunci pengasuhan anak di zaman Net. Kita sepakat bahwa orangtu harus memberi stimulus pertama pada anak. Teknologi tidak bisa dihindari, termasuk teknologi komunikasi. Tidak apa-apa mengenalkan gadget pada anak sejak usia dini. Dalam gadget banyak aplikasi edukatif yang bisa menjadi fasilitas untuk membantu orangtua menstimulus anak. Mulai dari warna, bentu, suara dll. Sedangkan untuk mengenalkan anak pada media sosial, menurut para ahli disarankan jika anak sudah berusia di atas 12 tahun. Namun demikian para orangtua tetap harus memegang kendali kontrol, bukan melepaskan begitu saja, sehingga anak bebas menggunakan gadet.
Pelajar yang curhat.

Pertama, Aturan  di keluarga berlaku sama. Baik pada orangtua maupun pada anak. Ketika anak diberi batasan penggunaan telepon genggam, maka orangtua melakukan hal yang sama? Bagaimana anak bisa menerima dan menjalankan aturan, jika aturan hanya untuk  diri si anak. Aturan perlu dievaluasi termasuk diri para orangtua. Jika telepon genggam si anak diambil atau dibatasi penggunaannya, hendaknya para orangtua melakukan hal yang sama. Yaitu sama-sama mengurangi penggunaan gadget.

Kedua, Konsistensi. Ketika aturan sudah disepakati, maka semua anggota keluarga harus menjalaninya. Segala sesuatu tidak ada yang instan, awalnya mungkin berat tetapi konsisitensi menjalani kesepakatan aturan, akan membuat anak mengerti, menerima dan mejalaninya.

Ketiga, Para orangtua harus belajar dan memahami dunia anak.  Ketika penerapan aturan yang menuntut disiplin, awalnya akan ada penolakan. Bahkan bisa jadi anak akan menuduh para orangtua tidak senang melihat mereka bahagia. Anak-anak akan merasa paling menderita sedunia.

Keempat, Tetap mendampingi anak. Saat anak-anak sudah tidak memegang telepon genggam, adalah waktu yang tepat bagi orangtua untuk lebih mendekatkan diri ke anak-anak. Anak tidak akan pernah menjauh, selama orangtua tetap merengkuh meeka. Anak menjauh karena orangtua idak mendekat. Bukankah orangtua pernah berada pada situasi si anak. Sedangkan si anak belum pernah mejadi orangtua.

Orangtua barangkali khawatir anak menjadi kurang bersosialisasi. Heloo, dengan media sosial anak bersosialisasi. Atau menurut orangtua, anak cenderung menggunakan bahasa pergaulannya. Bukankah zaman dulupun ada bahasa yang dipahami hanya oleh mereka yang remaja?

Kelima, Jika empat point diatas digabung maka kunci pengasuhan generasi seharang adalah penerapan Konsistensi dan konsekwensi. Artinya orangtua harus tegas dan konsisiten dalam menerapakn aturan  keluarga. Jika anak tidak boleh mengguakan gadget saat makan, maka orangtuapun tidak boleh menggunakan gadget saat makan. Setiap perbuatan dan tindakan, maka akan selalu ada  konsekuensinya.

Juri extrernal: Hany Sintawati



Mini seminar ditutup dengan pengumuman Pemenang Gian Faunatic Drawing Competition. Meurut Hany Sintawarti, selaku juri external. Panitia menerima lebih dati 300 karya gambar dari 48 sekolah seJabodetabek. Ada 3 aspek besar yang ditetapkan sebagai penyaringan karya. Pertama Imajinasi, kedua original ide, ketiga kemampuan mengatur komposisi dan warna. Keempat bukan yang utama tapi mejadi pertimbangan, adalah apakah gambar tersebut dapat diterapkan dalam merchandise yang akan diproduksi untuk Giant secara nasional. Di akhir acara, Hany yang juga mempunyai kegemaran membuat kerajinan tangan berpesan buat anak-anak-anak yang belum memang untuk tetap bersemangat dan berkarya. 

Para pemenang Gian Faunatick Drawing Competion 2017

12 comments:

kabarilman said...
This comment has been removed by the author.
Lathifah Edib said...

Kelima poin penting banget, apalagi di era net begini.

kabarilman said...

5 kunci di atas penting diketahui oleh orang tua manapun. Suri tauladan menjadi acuan bagi anak, sebaiknya orang tua memberikan contoh yang baik bagi anak.

Maliha said...

Agak serem ya dampak2 yang ditimbulkan jika gadget diberikan terlalu dini kepada anak dan setuju harus ada batasan dan pengawasan orang tua dalam memberikan gadget kepada anak

Nia Tiara said...

Sebagai orang tua jaman digital, dibutuhkan pendekatan dan pengawasan extra, lebih utama konsisten thd pola pengasuhan anak. Semangat bun cha

Nia Tiara said...

Sebagai orang tua jaman digital, dibutuhkan pendekatan dan pengawasan extra, lebih utama konsisten thd pola pengasuhan anak. Semangat bun cha

Ophi Ziadah said...

Masih harus belajar buat konsistensinya nih bun

Yati Rachmat said...

Bener bngt tuh, Icha, ortu hrs consistent begitu diterapkan pembatasan pemakaian gadget. Cucu bunda pulang sekolah jam 4pm langsung naik t4tidur maen gadget deh, makan juga disambi maen gadget. Bingung.

Yati Rachmat said...

Bener bngt tuh, Icha, ortu hrs consistent begitu diterapkan pembatasan pemakaian gadget. Cucu bunda pulang sekolah jam 4pm langsung naik t4tidur maen gadget deh, makan juga disambi maen gadget. Bingung.

Kurnia amelia said...

Catet banget tuh poin-poinnya.Thx for sharing Mama Icha.

Hida said...

Setuju bun dengan poin2nya, terutama bahwa seluruh keluarga harus mengikuti rule ttg penggunaan gadget.Emg harus ada batasan ya..biar komunikasi face to face tetap terjaga.Makasih infonya.

Djangkaru Bumi said...

Orang tua, kadang sudah disibukan dengan routinitas kerja atau sibuk mencari kebutuhan hidup dalam keluarga sehingga waktu untuk memahami perkembangan anaknya semakin terbaikan. Tahukan ,sekarang kebutuhan hidup begitu tinggi, orang tua harus bekerja dan bekerja agar semua bisa tercukupi.