Tuesday, July 30, 2019

Festifal Literasi Sekolah, Ajang Kompetisi dan Peningkatan Minat Literasi


 Beberapa waktu lalu, Nyonya Bawel melatih Vanessa, Bungsu Nyonya Bawel membaca puisi. Sebetulnya baca puisi tidak susah kalau anaknya minat dan sering berlatih. Sayangnya, Van bukan yang seperti itu. Jadi untuk apa baca puisi? Van diminta mewakilkan sekolahnya untuk ikut FLS 2019. Nyonya Bawel kepo dong, terus nanya: De, FLS 2019 itu apa?"

Duh anak sekarang tu ya, ditanya jawabnya enteng banget. "Mama jangan tanya terus, googling deh". Gitu jawab si Van. Jadilah Nyonya Bawel googling. ternyata FLS itu Festival Literasi Sekolah. Jadi tahun 2019, ini FLS yang ke tiga. Diselenggarakan Kementrian Pendidikan & Kebudyaan, dilakukan di semua sekolah se Indonesia Raya. Jadi tiap-tiap kabupaten/kota hingga propinsi semua melakukan FLS. Beuh keren banget. nyonya Bawel berharap, Festifal Literasi Sekolah, bisa mnejadi Ajang Kompetisi dan Peningkatan Minat Literasi

Nah Nyonya bawel dapat undangan menghadiri kegiatan FLS yang diselenggarakan di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Jika di tiap Kabupaten/Kota hingga tingkat propinsi dilakukan seleksinya secara off line kalau yang dikumpulkan d Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, seleksinya secara on line dan dibuka sejak Februari 2019. Puncaknya FLS 2019, di Jakarta, dibuka Menteri Pendidikan & Kebudayaan Muhajir Effendi. FLS 2019 di Jakarta, berlangsung sejak tanggal 26 Juli 2019 dan di tutup tanggal 29 Juli 2019


Dalam sambutannya Menteri Pendidikan & Kebudayaan, Muhajir Effendi mengatakan:"Hakikat dari membaca, adalah dapat memahami, mengkritisi, dan memberikan pendapat dari apa yang dibaca. “Hakikat dari membaca itu adalah paham. Paham kemudian membuat nalar kita bisa berpikir dan berjalan dengan baik, karena dari situ kita bisa menemukan hubungan-hubungan dan menentukan sangkut-paut terhadap apa saja yang kita pahami melalui membaca itu".


Muhajir Effendi  lewat FLS 2019 juga Menghimbau: Agar para pendidik dapat mengubah metodologi pengajaran sehingga peserta didik tidak hanya membaca tetapi dapat memahami dari apa yang dibaca. “Yang paling harus kita pikirkan adalah mungkin cara guru-guru kita, cara mengajarnya kurang tepat atau tidak dengan menggunakan metode yang tepat. Kenapa? karena kalau soal membacanya saja kita sudah termasuk kelompok masyarakat yang gemar membaca. Tetapi membaca tidak sekedar membaca tapi berusaha untuk bagaimana ketika membaca itu juga memahami,

FLS adalah ajang apresiasi tahunan atas capaian Gerakan Literasi Sekolah yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Lebih dari tiga puluh komunitas, lembaga pemerintah, mitra, penerbit, aplikasi, dan sekolah.







Usai memberikan sambutan, Mendikbud Muhadjir Effendy menulis pesan literasi untuk anak Indonesia dengan harapan budaya baca tidak hanya membaca tetapi dapat memahami, mengkritisi, dan memberikan pendapat. “Gerakan Literasi bukan sekedar gerakan membaca. Tetapi membaca untuk memahami serta mengkritisi dan memberikan pendapat lain dari apa yang dibaca,” 



Cha-Hali- Becak-Hamok-Literasi
Kreasi pelajar SMKN 7, Surakarta

Cha-Hali- Becak-Hamoc dan Literasi
Kreasi pelajar SMKN 7 Surakarta yang terpanggil untuk membiasakan membaca dikalangan pelajar. Berbekal niat menyebarkan virus membaca, Sony dkk, sesamam pelajar membuat fasilitas permustakaan mini yang bisa bergerak sehingga bisa dibawa ke mana-mana dan memiliki tempat untuk membaca. Maka terciptalah Cha-Hali-becak, untuk membawa buku-buku, hamock untuk tempat duduk/berbaring saat membiasakan budaya literasi (membaca)

Ide dan eksekusinya sederhana, tapi keberanian melawan kebiasaan anak muda, itu yang pantas di apreasi. Di dunia yang semua serba digital, masih ada anaka-anak muda yang melihat perlunya budaya literasi dibiasakan dikalangan mereka, sesama pelajar.

Menurut Sony, Cha-Hali ini sudah hadir saat Car Free Day. Jadi anak-anak muda yang lelah sehabis berolahraga bisa bersantai, tidur-tiduran di hamoc sambil membaca. Keren ya?

Serunya lagi, Nyonya Bawel bisa melihat betapa banyak anak-anak yang berprestasi dan punya kemampuan yang menganggumkan. Festifal Literasi Sekolah, menjadi  Ajang Kompetisi dan Peningkatan Minat Literasi. termasuk Lukisan, komik digital, boneka dan banyak lagi yang telah dijadikan sarana menyebarkan virus literasi. Nyonya Bawel berharap ini menjadi langkah awal virus literasi tersebar dan pesan Pak Menteri bisa terwujud. 

"Membaca untuk memahami 
serta mengkritisi dan memberikan pendapat lain 
dari apa yang dibaca,” 










No comments: